Editorial: Merawat Sejarah Mpu Bada, Menjaga Persaudaraan

Editorial: Merawat Sejarah Mpu Bada, Menjaga Persaudaraan



Lias Ate Tonga — Sejarah Boleh Dikaji, Persaudaraan Jangan Terpecah

Sejarah leluhur merupakan bagian penting dari identitas sebuah masyarakat. Namun, sejarah juga membutuhkan proses pengkajian yang jujur, terbuka, dan bertanggung jawab.

Gagasan generasi muda Mpu Bada untuk membentuk Forum Komunikasi Mpu Bada Bersatu Sedunia patut dilihat sebagai ruang persaudaraan. Forum semacam ini dapat menjadi tempat untuk menghimpun cerita sejarah, silsilah, dokumen adat, tradisi lisan, serta kesaksian para tokoh yang selama ini mungkin tersimpan secara terpisah di berbagai daerah.

Berbagai persoalan yang berkembang mengenai hubungan Mpu Bada dengan kelompok-kelompok kekerabatan lainnya, termasuk munculnya pandangan mengenai Sigalingging, Banurea, Daito, maupun persoalan penamaan dan simbol pada situs atau tugu, sebaiknya tidak diselesaikan melalui saling tuding.







Yang diperlukan adalah kajian dan dialog.

Jika terdapat perbedaan silsilah, mari dibandingkan sumbernya. Jika terdapat perbedaan sejarah, mari ditelusuri dokumennya. Jika ada tradisi lisan yang berbeda, mari dicatat dari siapa sumbernya dan dari generasi mana cerita tersebut diwariskan.

Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya mewarisi perdebatan, tetapi mewarisi pengetahuan.

Media juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar pemberitaan mengenai persoalan adat dan identitas tidak menjadi pemicu konflik. Pemberitaan harus membedakan antara fakta, pendapat, dugaan, dan klaim yang masih membutuhkan verifikasi.

Persaudaraan tidak boleh kalah oleh perbedaan tafsir sejarah.

Mpu Bada dan seluruh rumpun kekerabatan yang berkaitan dengannya memiliki generasi muda yang hidup di tengah perubahan zaman. Karena itu, sudah waktunya sejarah dikemas dalam bentuk dokumentasi yang lebih tertata: buku silsilah, arsip digital, wawancara tokoh adat, dokumentasi situs sejarah, kajian bahasa, serta forum diskusi lintas generasi.

Inilah pekerjaan besar yang dapat dilakukan bersama.

Bukan untuk mencari siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah, melainkan untuk menemukan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan dan menjadikannya warisan bagi anak cucu.

Lias Ate Tonga hendaknya menjadi semangat untuk membuka ruang komunikasi. Perbedaan pandangan tetap boleh ada, tetapi rasa hormat, persaudaraan, dan kedamaian harus menjadi fondasinya.

Sejarah untuk dipelajari. Adat untuk dihormati. Persaudaraan untuk dijaga. Generasi muda untuk meneruskannya.

Posting Komentar

0 Komentar